Tampilkan postingan dengan label KAFE REMAJA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAFE REMAJA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Ramadhan, Bulan I’dad dan Jihad

Muqaddimah

Pembicaraan tentang bulan Ramadhan tidak lepas dari pembicaraan tentang jihad. Karena tidak sedikit jihad yang dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya dalam memerangi kekufuran dan kemusyrikan terjadi pada bulan Ramadhan. Dan setelah beliau, para ulama salaf juga mengikuti jejak tersebut, bahkan hingga hari ini gelora jihad di bulan Ramadhan belum padam, dan tidak akan padam hingga hari kiamat kelak.

Di antara peristiwa besar (amaliyah jihad) yang pernah terjadi pada bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:

  1. Perang Badar yang terjadi pada tangal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah. Perang Badar dianggap sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih oleh umat Islam di awal pertumbuhannya di Madinah.
  2. Fathu Makkah yang terjadi pada tahun ke-8 Hijrah. Jihad ini merupakan kemenangan untuk menghancurkan tuhan-tuhan berhala dan menancapkan panji kebenaran.
  3. Pada Ramadhan tahun ke-9 Hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima utusan dari Tsaqif untuk membaiat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  4. Pada Ramadhan tahun ke-15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan.
  5. Pada Ramadhan tahun ke-53 Hijrah, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa.
  6. Pada bulan Ramadhan tahun ke-91 Hijrah, umat Islam memasuki selatan Andalusia (Spanyol sekarang).
  7. Pada Ramadhan tahun ke-92 Hijrah, umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalus dengan komandan Thariq bin Ziyad.
  8. Pada bulan Ramadhan tahun ke-132 Hijrah, Dinasti Umawiyah ditumbangkan dan berdirilah Daulah Abbasiyah.
  9. Pada bulan Ramadhan tahun ke-254 Hijrah, Mesir memisahkan diri dari Daulah Abbasiyah dengan pimpinan Ahmad bin Thaulun.
  10. Pada Ramadhan tahun ke-361 Hijrah, dimulainya pembangunan Masjid Al-Azhar yang kelak menjadi Universitas Al-Azhar di Kairo.
  11. Pada bulan Ramadhan tahun ke-584 H, Sholahuddin Al-Ayyubi mulai menyerang tentara Salib di Siria dan berhasil mengusir mereka.
  12. Pada Ramadhan ke-658 H., Umat Islam berhasil menghancurkan tentara Tartar di perang “Ain Jalut”
  13. Pada Ramadhan tahun ke-675 H., Raja Bebes dan tentaranya berhasil mengusir tentara Salib secara total.
  14. Pada bulan Ramadhan tahun ke-1393 Hijrah, tentara Mesir berhasil merebut terusan Suez dan mengusir tentara penjajah Israel dari Sinai.

Namun tidak sedikit dari umat Islam yang belum memahami masalah ini, terlebih lagi bagi mereka yang hanya ‘beribadah’ pada bulan Ramadhan saja, selesai bulan Ramadhan selesai pulalah amaliyah ibadah yang mereka lakukan.

Keutamaan Jihad di Bulan Ramadhan

Para shahabat terdahulu, apabila diberi pilihan kepada mereka untuk menger­jakan sepuluh perbuatan yang mubah, mereka mengambil satu saja. Yang sembilan mereka alo­kasikan untuk perbuatan wajib atau sunnah. Oleh karena itu, tidak mengherankan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat tetap menjalankan kewajiban jihad fi sabîlillâh sekalipun saat itu adalah bulan Ramadhan. Pada saat mereka sedang ber­puasa, di tengah panas terik, lapar dan dahaga, mereka rela menyabung nyawa untuk me­laksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Berangkatlahkamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah…” (QS. At-Taubah: 41).

Perang Badar Al-Kubra yang menjadi the turning point (titik balik) bagi ummat Islam terjadi pada bulan Ramadhan. Umat Islam, yang awalnya dikejar-kejar dan diusir dari kam­pung halamannya ternyata berhasil mengalahkan dan memukul mundur ten­tara Quraisy. Pembebasan kota Mak­kah oleh 10 ribu orang mujahidin yang dipimpin oleh Rasulullah yang mengakhiri peranan politik dan militer kaum jahiliyah juga terjadi pada bulan Ramadhan. Demikian pula penaklukan Anda­lusia (Spanyol dan Portugis) yang menandai peranan dan peradaban Islam terhadap ke­bangkitan dan pencerahan (renaissance) bangsa-bangsa Ero­pa juga terjadi pada bulan Ra­madhan. Kenapa kaum muslimin di masa lalu mampu melakukan tugas berat itu, sekalipun mereka sedang berpuasa?

Sebenarnya ini tidak mengherankan. Karena mereka tahu bahwa jihad itu termasuk amalan wajib yang paling utama dan puncaknya Islam (dzurwatul Islam). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan bahwa keti­ka Nabi ditanya, amalan apa yang paling utama, beliau menja­wab, “Iman kepada Allah. Lalu ditanya, setelah itu apa? Beliau menjawab, “Jihad fi sabîlillâh!” Keutamaan jihad juga ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai amalan yang mesti didahulukan oleh seorang mus­lim diatas kecintaannya kepada orang tua, anak, istri, keluarga, harta, bisnis, dan sebagainya. Lebih dari itu, jihad diletakkan setelah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Tidak hanya itu saja, ummat yang me­ninggalkan jihad, menyibukkan diri berbisnis, beternak, dan bertani, bakal di­timpa kehinaan hingga mereka kembali ke jalan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara memuliakan jihad fi sabîlillâh.

Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjanjikan pahala yang besar, berupa surga bagi orang yang berjihad dan memperoleh mati syahid di medan jihad fisabilillah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah telah mem­beli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mere­ka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar.” (QS. At-Taubah: 111).

Selain itu, Rasu­lullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa orang yang berpuasa dalam ke­adaan jihad fi sabîlillâh pasti di­jauhkan dari api neraka sejauh-jauhnya. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda:

Tidaklah seorang hamba ber­puasa dalam satu hari dalam jihad fi sabîlillâh melainkan pada hari itu, Allah menjauhkan wajah­nya dari neraka sejauh perja­lanan 70 tahun.”

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

Siapa saja yang shaum satu hari di dalam jihad fisa­bilillah niscaya Allah akan menjauhkan antara dia dan neraka dengan satu parit yang luasnya seluas langit dan bumi.” (HR. Ath-Thabarani).

Bahkan, kaum Muslim yang bertugas di front terdepan menjaga perbatasan negeri Islam dan senantiasa menghadapi an­caman tentara kafir, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kepada mereka ganjaran luar biasa yang tak bakal bisa diberikan oleh siapa pun selain Dia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Maukah kukabarkan kepada kalian tentang suatu malam yang lebih utama dari pada Lailatul Qadar? Dia adalah malamnya seorang pengawal yang sedang mengawal pasukan kaum Muslim yang sedang istirahat di tanah perkemahan yang mena­kutkan sehingga dia merasa seolah-olah dia tidak akan kem­bali kepada keluarganya lagi.” (HR. Al-Hakim, dan dinyatakan shahih oleh beliau dengan syarat perawi Al-Bukhari).

Jika kemuliaan berjihad di bulan Ramadhan demikian besarnya, beruntunglah saudara-saudara kita yang sedang berjibaku di medan tempur di negeri-negeri mereka yang diserang oleh kaum kafir, seperti di Fili­pina, Kasymir, Palestina, Afghanistan, dan terakhir Irak! Juga ber­untunglah setiap penguasa yang tergerak hatinya, atas dasar iman dan kesungguhan mencari ridha Allah (imanan wahtisâban) yang rela mengirimkan tentara-tentara muslimin dari angkatan ber­senjata yang mereka miliki untuk membebaskan kaum muslimin dan negeri-negeri mereka dari cengkeraman kaum kafir. Sebab, sudah menjadi kewajiban penguasa muslim untuk menolong saudara-saudara mereka —sekalipun bukan warga negara­nya— dari keganasan kaum kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Jika mereka meminta tolong kepadamu atas dasar agama mereka, maka kalian wajib menolongnya.” (QS. Al-Anfal: 72).

Contoh Teladan yang Patut Digugu dan Ditiru

Tahun 223 H. Khalifah Al-Mu’tashim tersentak. Hari itu telah sampai berita tentang pembantaian kaum muslimin oleh tentara Romawi Timur. Kaisar Romawi, Tufail bin Michael dengan seratus ribu pasukannya membantai muslim Kota Zibatroh dan Malthiya, dua kota di perbatasan antara Syam dan Turki. Laki-laki dibunuh, anak-anak disandera, dan kehormatan muslimah dinodai. Mereka juga mencincang tawanan, mencukil mata, memotong telinga dan hidung mereka. Seorang wanita muslimah Bani Hasyim yang ikut mereka sandera menjerit dengan nada pilu, “Duhai Mu’tashim….duhai Mu’tashim…!!!”

Detik itu juga, Khalifah Al-Mu’tashim beranjak dari singgasananya dan mengumumkan mobilisasi umum. Kaum muslimin segera berbondong-bondong datang, mengalir dari seluruh negeri Islam. Setelah semua pasukan siap dengan senjatanya, sang Khalifah bersiap.

Dikumpulkannya seluruh qadhi (hakim) di Baghdad. Di hadapan mereka, dibuatnya wasiat perpisahan; sepertiga harta untuk sedekah, sepertiga untuk anak-anak, dan sepertiganya lagi untuk maulanya.

Iring-iringan pasukan yang sangat besar segera bergerak ke arah musuh. Khalifah sendiri yang memimpin pasukan tersebut. Tepat tanggal 2 Jumadil Ula 223 H, pasukan Islam telah menggelar posisinya di Barat Sungai Dajlah.

Melihat besarnya jumlah kaum muslimin, pasukan Romawi mundur dari daerah yang mereka kuasai. Namun tekad sang Khalifah sudah bulat. Tawanan harus berhasil dibebaskan, nyawa kaum muslimin harus dibayar. “Negeri Romawi manakah yang paling kuat?” Tanya Khalifah Al-Mu’tashim. “Amuriyah, wahai Amirul Mukmin. Sejak Islam lahir, negeri itu belum pernah dijamah oleh kaum muslimin. Bagi Imperium Romawi, negeri itu lebih penting dari Konstantinopel.” Jawab beberapa perwira. “Negeri itu akan kita taklukkan (buka).” Tandas Khalifah dengan tegas.

Hari itu pula, genderang perang ditabuh. Tak ayal lagi, pertempuran berkecamuk dengan dahsyat. Seluruh tentara Islam berjuang dengan gagah berani. Tanggal 6 Ramadhan 223 H, diiringi pekik takbir seluruh tentara Islam yang membahana, Amuriyah jatuh ke tangan kaum muslimin. Semua tawanan berhasil dibebaskan. Tentara Islam menguasai Amuriyah selama 55 hari, kemudian meluluhlantakkannya dan membakarnya, untuk kemudian bergerak ke Thorsus.

Di mana para pemimpin kaum muslimin sekarang?? Wallahu A’lamu bish Shawab.

read more...

Apa yang Telah Kita Persembahkan untuk Allah, Rasul-Nya, dan Agama-Nya?

Allah Subhanahu wa Ta’al berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’.”
Tafsir Ayat
Imam Al-Mujahid berkata: “Ayat ini merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya bahwa amalan-amalan mereka akan diperlihatkan kepada Allah, Rasul, dan orang-orang beriman. Ini pasti akan terjadi, dan tidak mustahil pada hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haaqqah: 18)

Memahami Amal Islami
Seluruh teori kesuksesan yang ditulis dan dikembangkan masyarakat modern bermuara pada satu kata, yaitu amal atau kerja. Kerja dan terus kerja tanpa kenal lelah. Never give up (jangan pernah menyerah). Kemudian lahirlah penemuan-penemuan yang spektakuler. Penemuan listrik, atom, nuklir, pesawat terbang, telepon, mobil, dan lain-lain. Seluruh peradaban modern dibangun atas teori ini. Mereka sangat ahli tentang kehidupan dunia. Dan kesuksesan yang mereka kejar juga hanya kesuksesan di dunia. “Mereka Hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)
Islam tidak pernah menafikan seluruh karya positif manusia. Tetapi yang disayangkan adalah ketika mereka lalai dan tidak beriman pada prinsip dan pedoman hidup Al-Qur’an, yang sengaja diturunkan Allah untuk manusia. ‘Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 103-15)
Islam memiliki teori dan konsep kesuksesan yang lebih lengkap dan sempurna. Konsep amal shalih, bukan sekedar kerja, tetapi kerja yang dilandasi keimanan, keikhlasan dan ilmu yang benar. Kerja yang menembus batas-batas kebendaan duniawi, jauh menuju wilayah tanpa batas, orientasi ukhrawi. Oleh karena itu Imam Syafi’i mengomentari kandungan surat Al-Ashr, “Kalau saja Allah hanya menurunkan surat ini, maka cukuplah (untuk dijadikan pedoman bagi manusia).”
Bagi umat Islam yang ingin sukses di dunia dan akhirat, maka mereka harus terus menerus beramal shalih. Apalagi jika diukur dengan batas waktu atau umur yang disediakan Allah sangat terbatas. Sehingga mereka harus memprioritaskan waktunya hanya untuk amal shalih saja. Bahkan amal shalih itu sendiri ada tingkatan-tingkatannya. Dalam hukum Islam dikenal lima macam hukum, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Sehingga umat Islam harus berupaya keras untuk selalu dalam ruang lingkup wajib dan sunnah saja, minimal mubah, tetapi jangan berlebihan pada yang mubah. Dan ketika jatuh pada batas makruh dan harus, disana masih ada kesempatan bagi umat Islam, yaitu istighfar dan bertaubat. Jangan putus asa!
Dan puncak amal shalih adalah jihad, baik jihad dakwah maupun jihad perang, maka berbahagialah orang-orang beriman yang masuk wilayah ini. Inilah proyek amal islami yang harus menjadi konsens seluruh gerakan Islam, ormas Islam dan lembaga-lembaga keislaman. Ada urutan amal proyek amal islami. Dan amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Seperti yang Allah swt. firmankan, “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)
Maraatib Al-‘amal (Grand Desain Proyek Amal Islami)
Ada 7 langkah Grand Desain Proyek Amal Islami yang harus menjadi acuan gerakan Islam, yaitu: Islaahun nafs (reformasi diri), takwiin baitil muslim (membentuk keluarga islami), irsyaadul mujtama (penyadaran masyarakat), tahrirul wathan (memerdekakan negeri), ishlahul hukumah (reformasi pemerintahan), i’aadah al-kiyaan ad-dauli lillummah al-islamiyah (mengembalikan peran umat Islam dalam percaturan internasional), dan ustaadiyatul aalam (menjadi pemimpin dunia).
1. Ishlaahun nafs sehingga menjadi qawiyyul jism (kuat fisik), matiinul khuluq (kokoh akhlaq), mutsaqqaful fikr (cerdas wawasan), qaadiran ‘alal kasam (mampu berusaha), saliimul aqidah (bersih aqidah), shahihul ibadah (benar ibadah), mujaahidan linafsihi (bersungguh-sungguh), hariishan ‘alaa waqtihi (perhatian terhadap waktu), munazhzhaman fii syuunihi (tertib dalam urusan), dan naafi’an lighairihi (bermanfaat untuk orang lain). Ini adalah kewajiban individu setiap anggota.
2. Takwiin baitil muslim dengan cara mengarahkan keluarganya agar menghormati fikrah, menjaga adab Islam dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam mencari istri dan melaksanakan hak dan kewajibannya, baik dalam mendidik anak dan khadimah serta membentuk mereka sesuai prinsip-prinsip Islam. Ini juga kewajiban setiap anggota.
3. Irsyaadul Mujtama dengan menyebarkan dakwah kebaikan kepada masyarakat, memerangi kehinaan dan kemungkaran, mendorong kemuliaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan berlomba melaksanakan kebaikan, mengarahkan opini umum agar berfihak pada fikrah Islam, dan senantiasa mewarnai kehidupan umum. Ini adalah kewajiban anggota dan jamaah.
4. Tahriirul wathan dengan membersihkannya dari setiap kekuasaan asing-tidak islami- baik politik, ekonomi maupun moral.
5. Ishlaahul hukumah sehingga benar-benar sesuai dengan nilai Islam, dengan demikian pemerintah akan menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat dan bekerja untuk kemaslahatannya. Dan pemerintah Islam yaitu dimana anggotanya muslim menjalankan kewajiban Islam tidak terbuka dalam bermaksiat dan menjalankan hukum Islam dan ajarannya.
6. I’aadah al-kiyaan ad-dauli lil ummah al-islamiyah dengan memerdekakan tanah air, mengembalikan kejayaan, mendekatkan budaya dan menyatukan kalimatnya. Semua itu dilakukan sehingga dapat mengembalikan sistem khilafah yang hilang dan kesatuan yang diharapkan.
7. Ustadziyaatul ‘aalam dengan menyebarkan dakwah Islam keseluruh penjuru dunia, “Supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Anfaal: 39). “Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya.” (QS. At-Taubah: 32)
Memahami Hakikat Perjuangan Islam
Untuk memahami perjuangan Islam, kita haruslah merujuk kepada kandungan suatu hadith Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh seorang sahabat bernama Suhaib Al-Rumi. Antara isi kandungannya ialah:
1. Bahawa Islam seperti kita fahami itu merupakan suatu perjuangan yang sambung-menyambung dan tali-menali dari segi perjuangan yang pernah diperjuangkan oleh para anbiya’ dan mursalin, bermula daripada perjuangan Nabi Allah Adam ‘Alaihissalam sampailah kepada perjuangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disambung semula secara terus-menerus oleh sahabat, tabi’in dan orang-orang yang datang selepas mereka hingga ke hari ini dan hari-hari yang akan datang.
2. Perjuangan ini sering berhadapan dengan golongan yang berkuasa di dalam masyarakat terutamanya para pemerintah yang tidak berdasarkan kepada Islam dan sekaligus menjadi penghalang kepada kerja-kerja Islam. Hal ini boleh dilihat dengan jelas bila kita mengingati perjuangan Nabi Ibrahim AS yang ditentang oleh Namrud, Nabi Musa AS ditentang oleh Firaun dan lain-lain. Mereka bukan sahaja menjadi penghalang tetapi juga berusaha sedaya upaya untuk mempertahankan dasar pemrintahannya. Sehingga walaupun para pemimpin yang ada itu pergi, mereka tetap mahu melihat bahawa dsar pemerintahannya itu terus wujud dan kekal.
3. Untuk menjamin sistem pemerintahan yang mereka anuti itu kekal, bermacam-macam usaha yang mereka lakukan. Antaranya mengadakan pasukan pertahanan yang kuat, pasukan keselamatan yang rapi, sistem pendidikan dan pembelajaran bermatlamat, para petugas dan pegawai yang terlatih, kepimpinan masyarakat yang berkeyakinan, sumber ekonomi yang terjamin dan sebagainya.
4. Pertentangan antara pejuang Islam dengan pihak yang berkuasa di dalam sesuatu masyarakar itu bukan disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan peribadi tetapi merupakan pertembungan aqidah dan dasar. Hal ini jelad apabila kita mengingati kembali hubungan di antara Nabi Musa ‘Alaihissalam dan Firaun sebelum menjadi Nabi dan selepas diutus menjadi Rasul, hubungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan para pemimpin dan masyarakat Quraisy. Sebelum diangkat menjadi nabi, baginda disanjung tinggi oleh masyarakat Quraisy sehingga digelar al-Amin. Hal ini berubah apabila baginda diisytiharkan menjadi nabi. Gelaran tersebut bertukar menjadi ahli sihir, gila, pendusta dan lain-lain.
Wallahu A’lamu bish Shawab

Reference:
1. Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir
2. Tafsir Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari.
3. Karakteristik Amal Islami, www.dakwatuna.com
4. Dan lain-lain.

read more...